Blog

Apa yang Menyebabkan Internet di Indonesia Lemot?

Apa yang Menyebabkan Internet di Indonesia Lemot?

Trafik data seluler di Indonesia terus mencatat pertumbuhan, tetapi tak semua pelanggan menikmati akses internet berkecepatan tinggi. Data dari lembaga Internet.org, misalnya, menunjukkan bahwa 75 persen pengguna data seluler Tanah Air masih harus mengandalkan jaringan 2G GSM/EDGE yang kecepatannya jauh tertinggal dari jaringan 3G, apalagi 4G.

Indonesia hanya duduk di urutan 93 kecepatan internet fixed broadband dunia dengan mencatat angka download 13,38 Mbps, dan urutan 106 untuk kecepatan internet mobile global dengan kecepatan download 9,73 Mbps.

Di Asia Pasifik, kecepatan internet Indonesia tercatat lebih pelan dari Filipina (14,42 Mbps broadband, 12,35 Mbps mobile) serta hanya lebih kencang dari Myanmar (6,97 Mbps broadband, 11,72 Mbps mobile) dan Laos (9,52 Mbps broadband, 13,77 Mbps mobile).

Sebaliknya, negara tetangga Singapura tercatat sebagai pemilik internet fixed broadband terkencang dengan kecepatan download mencapai 153,85 Mbps, sehingga menduduki urutan pertama.

Urutan kedua dan ketiga fixed broadband secara berturut-turut ditempati oleh Islandia dengan kecepatan download 147,51 Mbps dan Hong Kong dengan kecepatan download 133,94 Mbps.

Lalu apa yang menyebabkan koneksi internet di Indonesia mengecewakan? Ini penjelasannya:

1. Mahalnya Infrastruktur

Untuk menyediakan jaringan internet, tentu perlu infrastruktur yang memadai. Mulai kabel, tower, dan pernik lainnya yang tidak terbayangkan sebagai orang awam. Untuk membangun infrastruktur yang memadai tentu biayanya juga tidak sedikit. Karena itu, kurangnya infrastruktur membuat internet di negeri ini lamban. Karena jumlah penduduk Indonesia masuk lima besar terbanyak di dunia, pengguna internetnya pun tinggi. Tanpa dibarengi infrastruktur yang memadai, koneksi yang lemot pastinya bukan hal yang mengejutkan.

2. Kondisi Geografis

Indonesia adalah Negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 13 ribu pulau yang tersebar pada area seluas 1.9 juta kilometer persegi, terlebih lagi dengan medan yang sulit dijangkau. Dengan bentuk Negara kepulauan mengakibatkan Indonesia kesulitan dalam hal akses untuk memberikan layanan internet secara menyeluruh serta dengan terpisah oleh lautan membuat hal ini menjadi semakin buruk. Hal ini berakibat pada rendahnya kecepatan internet.

3. Mengakses Website Luar Negeri Perlu Biaya Lebih

Membuka Google, Youtube, dan berbagai situs media sosial internasional sudah menjadi keseharian. Website-website tersebut servernya berada di luar negeri. Padahal untuk mengakses ke sana, kita butuh biaya lebih. Diulas oleh tipstek, untuk berlangganan koneksi internasional ini biayanya sangatlah mahal, 1 Mpbs saja bisa 100USD.Ironisnya, harga server lokal juga ternyata relatif lebih mahal. Karena itulah, banyak pengusaha digital dan website lokal memilih memakai server luar negeri. Mahal lagi deh biayanya.

4. Biaya Hak Penggunaan Frekuensi Cukup Tinggi

Biaya Hak Penggunaan Frekuensi (BHPF) adalah biaya yang harus disetor kepada pemerintah untuk setiap penggunaan frekuensi, entah itu internet, radio, ataupun televisi. Saat ini, BHPF termasuk sumber pendapatan negara yang sangat potensial. Nilainya pun tidak kecil. Seperti Smartfren yang harus membayar Rp242 M untuk 3 tahun. Sementara PT Telkom harus membayar trilyunan untuk tahun 2010. Besarnya BHP ini ditentukan juga oleh kapasitas bandwidht masing-masing provider. Nah, barangkali karena modal yang tidak sedikit itulah yang membuat harga internet kita cenderung mahal.

5. Tingginya Angka Pengguna Internet

Pada Desember 2011, pengguna internet Indonesia tercatat mencapai 55 juta jiwa atau 22.4% dari total populasi orang Indonesia. Dengan angka ini, Indonesia mencatatkan diri sebagai negara dengan jumlah pengguna internet peringkat ke-8 terbanyak di dunia dan terbanyak ke-4 di Asia setelah Tiongkok, India, dan Jepang. Semakin banyak jumlah pengguna internet yang harus dilayani tentu membuat rata-rata kecepatan internet semakin turun.

6. Perang Promosi Operator/Provider Internet

Perang promosi yang terjadi pada operator penyedia koneksi internet akhir-akhir ini memang membuat harga koneksi internet terasa lebih murah bagi konsumen. Namun, seiring dengan hal itu semakin turun pula kualitas koneksi internetnya baik dari segi kecepatan maupun kestabilan koneksi yang pada akhirnya tidak jadi lebih murah dari sebelumnya.

Kami menyebutnya perang promosi dan bukan perang harga karena mereka perang untuk memenangkan pikiran konsumen bahwa harga koneksi internet mereka adalah paling murah dibandingkan yang lainnya sedangkan harga koneksi internet mereka sesungguhnya tetap sama.

Internet Indonesia memang mahal, tapi tarif paket data di negara-negara ini akan membuat Anda ternganga. Di negara-negara Afrika, akses internet masih tergolong langka. Di Gambia, untuk satu bulan internet rata-rata menghabiskan biaya sampai Rp1,3 juta. Di Ethiopia, Anda harus mengeluarkan uang Rp2,6 juta.

Sama-sama di Asia Tenggara, di Myanmar biaya untuk satu bulan internet rata-rata Rp1,6 juta. Sementara negara Asia Tengah lainnya seperti Uzbekistan, biaya internet perbulannya rata-rata Rp1,71 juta. Sementara di Indonesia untuk penggunaan pribadi perbulan menghabiskan sekitar Rp100-300 ribu. Masih lumayan ‘kan?

Silahkan kunjungi laman produk Inolabs Indonesia lainnya seperti Software Apotek, Software Klinik, dan Software Rumah Sakit yang semuanya berbasis web.