Blog

Miris, 4 Media Sosial Paling Populer Ini Harus Gulung Tikar, Ini Alasannya

Miris, 4 Media Sosial Paling Populer Ini Harus Gulung Tikar, Ini Alasannya

Pada 1 Oktober lalu, salah satu media micro blogging Path tidak bisa lagi diakses di Google Play Store. Pada 18 Oktober, Path benar-benar tidak bisa diakses. Terakhir pada 15 November nanti, layanan customer service-nya juga ditutup.

Sebagian dari warganet yang pernah aktif di Path mengungkapkan perasaan sedih. Bagaimana tidak terharu? Path ini dulunya termasuk media sosial paling hits sebagai ajang aktualisasi diri.

Bahkan Bakrie Group lewat Bakrie Telecom pernah menyuntikkan uang tahun 2014. Saat itu Path dapat suntikan dari banyak investor dengan jumlah uang mencapai US$ 25 juta.

Perlahan tapi pasti, Path mulai ditinggalkan seiring makin populernya Instagram. Sejak saat itu media sosial ini pun berjalan tertatih-tatih hingga akhirnya menyatakan diri tidak sanggup lagi untuk meneruskan layanannya.

Rupanya, selain Path, ada beberapa media sosial yang dulunya sangat diminati di Indonesia kemudian tutup dan sekarang tinggal kenangan. Apa saja? Yuk simak daftarnya berikut ini.

1. Friendster

Sebelum Facebook ada, media sosial yang satu ini jadi andalan untuk mengekspresikan diri. Apalagi generasi ‘90-an, Friendster sudah akrab dengan mereka.

Cuma di Friendster para remaja bisa mengekspresikan diri sesuka hati, menambah banyak teman, berbagi perasaan, hingga berkomentar.

Sayangnya, kemunculan Facebook membawa petaka. Karena kalah saing, medsos ini pun pelan-pelan ditinggalkan.

Friendster yang didirikan tahun 2002 oleh programer asal Kanada, Jonathan Abrams, resmi ditutup pada 2009.

Merasa masih ada harapan, Friendster dibeli dan dihidupkan kembali oleh MOL Global, perusahaan Internet terbesar di Asia. Namun, harapan itu harus dikubur dalam-dalam dan Friendster benar-benar tutup pada 2015.

2. Multiply

Media sosial yang dibuat pada 2003 ini juga sempat populer di kalangan generasi ‘90-an. Namun masih kalah terkenal dibandingkan Friendster.

Tak kalah asyik dengan Friendster saat itu, Multiply menawarkan fitur-fitur yang menarik. Mulanya medsos ini mirip seperti blog. Di sini pengguna bisa berbagai foto dan video.

Selain itu, demi menarik minat pasar di Asia Tenggara, Multiply membangun kantornya di Jakarta dan Filipina pada tahun 2012.

Sayangnya, keuntungan yang dinanti medsos ini tak kunjung datang hingga akhirnya tutup pada 31 Mei 2013.

3. Yahoo! Messenger

Produk Yahoo yang satu ini sangat populer pada masanya. Media sosial ini dipakai banyak orang di berbagai negara. Penggunanya mencapai ratusan juta orang.

Selain karena pemilik akun email Yahoo otomatis menjadi pengguna Yahoo! Messenger, medsos ini juga menawarkan fitur yang bikin penggunanya nyaman memakainya. Makanya medsos chit chat ini lebih laris dari pesaingnya, mIRC.

Nyatanya, kejayaan Yahoo! Messenger tidak bisa bersaing. Medsos yang dirilis tahun 1998 ini akhirnya resmi ditutup pada 17 Juli 2018.

4. Migme

Meskipun belum ada kabar resmi, Migme udah tak bisa diakses sejak awal 2018. Dulunya media sosial ini dikenal dengan nama mig33.

Medsos yang dirintis tahun 2005 oleh Steven Goh dan Mei Lin Ng ini kurang populer dibandingkan medsos lainnya yang disebutkan di atas. Namun, faktanya pengguna medsos ini cukup banyak, tersebar di Bangladesh, Nepal, Indonesia, India, hingga Afrika. Rata-rata penggunanya memanfaatkan Migme sebagai sarana untuk mencari jodoh.

Terakhir, seperti yang dikabarkan Tech in Asia, Steven Goh, bos Migme sekaligus Shopdeca dan Hipwee, menyatakan sedang mengalami kesulitan dalam mencari pendanaan. Bisa jadi ini menjadi sebab kenapa medsos ini akhirnya offline.

Silakan kunjungi laman produk Inolabs Indonesia lainnya seperti Software Apotek, Software Klinik, dan Software Rumah Sakit yang semuanya berbasis web.