Disrupsi Digital dan Semakin Krusialnya Peran Data

Disrupsi Digital dan Semakin Krusialnya Peran Data

Published on 03 April 2018

Disrupsi Digital dan Semakin Krusialnya Peran Data

Keuntungan besar tak menjamin suatu bisnis akan terus langgeng. Pebisnis juga mesti luwes beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Pada era revolusi industri 4.0 seperti sekarang, pemanfaatan teknologi kian menjadi suatu kebutuhan penting. Perusahaan mapan sekali pun seyogianya mengadopsi teknologi digital untuk menjamin eksistensi bisnis.

Bila masih berpatok pada model bisnis lama yang mengabaikan pemanfaatan teknologi, bukan tak mungkin bisnis terguling dan karam.
Saat ini saja disrupsi digital mulai menggerus sejumlah sektor, seperti transportasi, ritel, keuangan, dan logistik.

Mungkin, pada masanya nanti sulit terbayangkan bila membeli pakaian hanya sebatas beberapa klik di gawai. Tak perlu lagi mengeluarkan ongkos transportasi atau tenaga untuk pergi ke pusat belanja.

Perubahan pola hidup masyarakat itu semestinya menjadi alarm bagi para pebisnis. Menjemput masa depan adalah kewajiban. Terlambat sedikit saja, bisa-bisa terlibas tsunami digital.

Mulailah melakukan transformasi digital secara terintegrasi. Upaya ini tak hanya pada bagian layanan pelanggan (front office), tetapi juga menyentuh tim pendukung operasional (back office).

Sejumlah perusahaan pun mulai menyadari pentingnya transformasi digital dengan pemanfaatan internet of things (IoT). Ambil contoh, pada sektor perbankan.

Modernisasi berbasis teknologi finansial terus dikembangkan sehingga kualitas layanan nasabah menjadi lebih maksimal. Proses transaksi keuangan juga lebih cepat.

Tak cukup transformasi

Bisnis berbasis digital adalah masa depan ekonomi Indonesia. Ini bukan sekadar jargon, karena data statistik pun mengonfirmasi semakin masifnya ekonomi digital di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

Kementerian Komunikasi dan Informatika memproyeksikan, pada 2020, ekonomi digital Tanah Air bisa tumbuh mencapai 130 miliar dollar AS atau Rp 1.700 triliun. Angka proyeksi itu mencapai 20 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Tidak kalah krusial dari sekadar mentransformasikan bisnis ke arah digital adalah kemampuan memanfaatkan data. Ya, tak bisa dimungkiri bahwa data semakin menjadi kebutuhan penting dalam berbisnis.

Perusahaan perlu memanfaatkan data untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam operasional yang dijalani. Pengaturan proses produksi atau operasional gedung, misalnya, dapat lebih terarah dengan analisis data yang kuat. Seiring waktu, kesadaran perusahaan akan pentingnya data juga mulai meningkat. Hal itu sebagaimana tercermin dari laporan penelitian terbaru International Data Corporation (IDC) Worldwide Semiannual Big Data and Analytics Spending Guide.

Laporan tersebut menyebutkan, pendapatan bisnis teknologi data berukuran besar beserta analisisnya (big data analytic/BDA) secara global mencapai 150,8 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.000 triliun) pada 2017. Nilai tersebut melonjak 12,4 persen dibandingkan thun sebelumnya. Pertumbuhan tahunan majemuk pembelian komersial BDA dalam wujud perangkat keras, perangkat lunak, dan jasa diperkirakan sebesar 11,9 persen hingga 2020.

Menurut IDC, teknologi BDA telah menjadi arus utama dan semakin krusial sebagai dasar pengambilan keputusan para petinggi perusahaan. Baik untuk menganalisis selera konsumen maupun merencanakan ekspansi bisnis. "Data is new mind dan ini adalah tambang baru, dulu yang menjadi kaya adalah yang menguasai tambang emas, batubara, minyak, maka pada era digital ini yang disebut sebagai tambang adalah tambang data,” ungkap Menteri Keuangan Sri Mulyani

Energi

Di balik pentingnya pemanfaatan data untuk menunjang transformasi bisnis digital, ada satu hal yang selayaknya diperhatikan perusahaan. Semakin banyak teknologi yang digunakan tentunya akan meningkatkan konsumsi listrik. Karena itulah, penting bagi perusahaan untuk meminimalkan ekses tersebut. Terlebih lagi, dunia saat ini tengah berperang melawan kelangkaan energi.

Berdasarkan Kesepakatan Paris pada 2015, sebanyak 195 negara sepakat untuk menahan kenaikan temperatur global di bawah dua derajat celsius. Indonesia sebagai negara terbesar keempat di dunia dipandang berperan penting dalam menyukseskan kesepakatan itu. Pemerintah pun terus mendorong sektor industri untuk terlibat aktif menghemat energi. Selaras dengan itu, ada baiknya pebisnis mulai berinisiatif dalam menghemat energi dalam operasionalnya.

Misalnya, dengan menerapkan layanan EcoStruxure dari Schneider Electric. Selain berfungsi dalam pemanfaatan dan pengelolaan data berbasis IoT, layanan tersebut juga mampu memberi nilai tambah bagi usaha Anda dari segi keamanan, keandalan, efisiensi operasional, konektivitas, serta keberlanjutan lingkungan.

Salah satu praktik baik penerapan EcoStruxure adalah pada operasional pusat data Green Mountain di Norwegia. Pemanfaatan dan pengelolaan data dilakukan secara berkelanjutan dan tidak menghasilkan emisi karbon sama sekali. Fitur unggulan EcoStruxure seperti itu dan yang lainnya akan turut dipamerkan bersama dengan inovasi-inovasi mutakhir dalam ajang Innovation Summit 2018 di Hotel Mulia, Jakarta, pada 18-19 April mendatang. Anda yang sedang berbisnis atau pun baru punya rencana untuk itu bisa hadir untuk menyaksikannya.
Siapa yang tak mau, usaha merekah dengan pundi-pundi terus menebal!

Silahkan kunjungi laman produk Inolabs lainnya seperti Software Apotek, Software Klinik, dan Software Rumah Sakit yang semuanya berbasis web.

SUMBER ARTIKEL