Blog

Merokok Membunuhmu, Tapi Kenapa Banyak Perokok Tetap Hidup?

Merokok Membunuhmu, Tapi Kenapa Banyak Perokok Tetap Hidup?

Katanya rokok itu berbahaya dan buruk untuk kesehatan, tapi kok banyak perokok yang tetap sehat?

Pasti Anda pernah melihat seorang perokok aktif yang kondisi kesehatannya baik-baik saja, sementara ada orang yang tidak merokok (juga bukan perokok pasif) justru sering sakit-sakitan.

Hal itu lantas digunakan para perokok sebagai alasan bahwa merokok itu tidak terlalu mempengaruhi kesehatan, dan tidak pula mempengaruhi panjang umur mereka.

Tapi, benarkah demikian?

Meski para ahli kesehatan telah menguraikan bahaya rokok bagi kesehatan, nyatanya banyak perokok yang tetap merokok sampai tua dan sehat-sehat saja. Tim ilmuwan dari Inggris berhasil mengungkap adanya faktor lain yang berpengaruh, yakni faktor genetik. 

Selain itu, ada perbedaan genetik yang berpengaruh pada seseorang apakah akan kecanduan rokok atau tidak. Pemahaman terhadap varian gen ini diketahui akan membantu dokter melakukan pengobatan pada penyakit paru, seperti penyakit paru obstruksi kronik (PPOK), serta membantu kesuksesan upaya berhenti merokok. 

Tim peneliti yang dipimpin oleh Prof Ian Hall dari Universitas Nottingham menemukan profil DNA tertentu yang menurunkan risiko PPOK, termasuk bronkitis dan emfisema. Gen ini berpengaruh pada cara paru-paru berkembang dan merespons cedera.  

Di lain pihak, ada juga DNA tertentu yang justru meningkatkan risiko PPOK sehingga ini bisa menjelaskan mengapa ada orang yang terkena penyakit ini walau tidak pernah merokok sama sekali. 

Meski begitu, hasil penelitian ini tidak lantas menjadi "lampu hijau" bagi Anda untuk melanjutkan kebiasaan merokok. Merokok adalah faktor risiko terbesar untuk penyakit PPOK. Kebanyakan, tetapi tidak semua, perokok menderita penyakit ini. Faktor genetik berperan, seperti halnya dalam kecanduan rokok atau tidak. 

Selain faktor genetik di atas, ada tiga faktor lain yang memunculkan asumsi kenapa banyak perokok tapi tetap sehat, yakni:

1. Tingkat rapat kematian kecil, sehingga sulit untuk mengetahui secara langsung orang yang meninggal akibat penyakit dari rokok.

2. Bias selektif: kecenderungan untuk melihat para perokok yang sehat dan abai terhadap perokok yang sakit

3. Penyakit akibat rokok pada umumnya berupa penyakit jangka panjang (mengurangi angka harapan hidup), sehingga kita jarang melihat secara langsung.

Walaupun dari luar para perokok terlihat sehat, pada dasarnya telah terjadi banyak gangguan pada organ-organ di dalam tubuh mereka.

Silakan kunjungi laman produk Inolabs Indonesia lainnya seperti Software Apotek, Software Klinik, dan Software Rumah Sakit yang semuanya berbasis web.