Sikon Mudik dan Arus Balik Lebaran 2017: Titik-titik Krusial

Published on 27 Juni 2017

Sikon Mudik dan Arus Balik Lebaran 2017: Titik-titik Krusial

Umat Islam di seluruh dunia termasuk Indonesia akan segera merayakan hari kemenangan setelah sebulan lamanya memerangi hawa nafsu dengan melaksanakan ibadah puasa. Idul Fitri 1438 H diperkirakan jatuh pada 25 Juni, sehingga hari libur (cuti) bersama nasional diawali pada 23 Juni.

Lebaran yang diwarnai dengan kegiatan mudik adalah hal yang lumrah dalam masyarakat Indonesia, termasuk umat Islam di beberapa negara. Melalui mudik, masyarakat akan menyambung tali silaturahmi dengan orangtua dan keluarga, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kemajuan pembangunan yang telah dilaksanakan.

Bahkan mudik juga diharapkan sebagai wahana untuk mengakselerasi peredaran uang untuk peningkatan kesejahteraan. Namun, bagaimana situasi dan kondisi (sikon) menjelang mudik dan pada saat arus balik tahun 2017 ini? Permasalahan apa saja yang menjadi titik krusialnya dan apakah ancaman terorisme akan ikut "menghiasi" mudik dan arus balik Lebaran 2017?

Titik Krusial

Setidaknya ada beberapa permasalahan krusial yang perlu diantisipasi menjelang mudik dan pada saat arus balik Lebaran 2017. Pertama, angka kejahatan yang terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya serta wilayah Indonesia lainnya. Contohnya di Jakarta dan sekitarnya, berdasarkan data Polda Metro Jaya, angka kriminalitas sepanjang 2016 sebanyak 42.149 kasus.

Dari 42.149 kasus yang terjadi di wilayah hukum Polda Metro Jaya, terdapat kasus-kasus menonjol yang mengalami peningkatan pada 2016. Salah satunya adalah kejahatan perampokan yang naik 12 persen dari tahun sebelumnya. Kenaikan juga terjadi pada kasus perkosaan; pada 2015 mencapai 63 kasus, sedangkan di 2016 meningkat menjadi 719 kasus, atau naik sebanyak 4 kasus (sekitar 6 persen). Kenakalan remaja seperti tawuran juga mengalami peningkatan dari 1 kasus (2015) menjadi 5 kasus (naik 400 persen).

Kedua, masih terjadinya aksi kriminal disebabkan karena gini ratio Indonesia yang masih cukup tinggi, walaupun diklaim mengalami penurunan selama 2016. Pada Maret 2016, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh gini ratio adalah sebesar 0,397. Angka ini menurun dibandingkan gini ratio Maret 2015 yang sebesar 0,408, dan gini ratio September 2015 yang sebesar 0,402.

Gini ratio di daerah perkotaan pada Maret 2016 sebesar 0,410, turun 0,018 poin dibanding gini ratio Maret 2015 yang sebesar 0,428, dan turun 0,009 poin dibanding gini ratio September 2015 yang sebesar 0,419. Sementara gini ratio di daerah perdesaan pada Maret 2016 sebesar 0,327 menurun 0,007 poin dibanding gini ratio Maret 2015 yang sebesar 0,334, dan menurun 0,002 poin dibanding gini ratio September 2015 yang sebesar 0,329.

Selama periode Maret 2015–Maret 2016, distribusi pengeluaran dari kelompok penduduk 40 persen terbawah masih dalam kategori ketimpangan rendah. Namun, distribusinya semakin menurun, yaitu dari 17,10 pada Maret 2015 dan 17,45 persen pada September 2015 menjadi 17,02 persen pada Maret 2016.

Distribusi pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah di daerah perkotaan pada Maret 2016 tercatat sebesar 15,91 persen meningkat dibanding Maret 2015 yang sebesar 15,83 persen. Namun, menurun jika dibandingkan dengan September 2015 yang sebesar 16,39 persen. Sementara di daerah perdesaan distribusi pengeluaran dari kelompok penduduk 40 persen terbawah pada Maret 2016 sebesar 20,40 persen, menurun dibanding Maret 2015 (20,42 persen) dan September 2015 (20,85 persen).

Ketiga, hal lainnya yang perlu diantisipasi adalah kemungkinan terjadinya berbagai bencana alam saat mudik atau arus balik nanti. Beberapa jenis bencana alam yang perlu diantisipasi yaitu gempa bumi terutama gempa tektonik, dengan daerah yang menjadi "langganan" antara lain Aceh, Padang, Nias, Jambi, Bengkulu, Lampung. Tasikmalaya, Yogyakarta, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Erupsi perlu diwaspadai di zona rawan seperti Gunung Sinabung, Merapi, Tangkubanperahu, Lokon, Kelud, Semeru, Bromo dan Soputan. Sedangkan, longsor berpotensi terjadi di Banjarnegara, Wonosobo, Ponorogo, Ciwidey dan Purworejo karena curah hujan yang tinggi.

Banjir bisa terjadi di daerah dataran rendah atau daerah yang dialiri sungai seperti Jakarta, Bandung dan Bekasi. Banjir juga bisa diakibatkan oleh pasang laut (banjir rob) seperti di daerah Semarang. Tsunami berpotensi terjadi di pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

Kekeringan bisa terjadi disebabkan oleh musim kemarau panjang atau karena anomali cuaca seperti El Nino, dengan daerah rawan seperti Gunung Kidul, Pacitan, Sulawesi Tengah dan Lombok. Sedangkan kebakaran lahan banyak terjadi di daerah yang banyak hutan gambut seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, Sumatera Selatan dan Jambu.

Gas beracun berasal dari gejala post vulkanik seperti di Kawah Domas, Ijen dan Dieng. Gas beracun ini tidak berasa dan berbau sehingga agak sulit dideteksi oleh manusia. Angin puting beliung bisa terjadi karena adanya pusat tekanan rendah di suatu wilayah. Beberapa daerah yang pernah diterjang angin puting beliung di antaranya Sukabumi, Banten, Jawa Timur dan Sumatera bagian barat.

Keempat, titik rawan kemacetan, rawan kecelakaan dan rawan kriminalitas. Data Direktorat Lalu Lintas Polda Jawa Tengan (Jateng) menyebutkan, terdapat sebanyak 114 titik rawan kemacetan dan 106 titik rawan kecelakaan saat arus mudik Lebaran 2017.

Titik-titik rawan kemacetan tersebut terdapat di beberapa wilayah di Jateng; di Pekalongan ada 28 titik, Banyumas 17 titik, Semarang 25 titik, Pati 10 titik, Kedu 19 titik, dan wilayah Soloraya 14 titik. Sedangkan titik rawan kecelakaan terbagi dalam beberapa wilayah; Pekalongan 20 titik, Banyumas 13 titik, Semarang 19 titik, Pati 18 titik, Kedu 19 titik, dan Solo Raya 17 titik.

Sedangkan lokasi pasar tumpah di Jateng yang rawan menimbulkan kemacetan tercatat sebanyak 77 titik. Berikut rincian daftar lokasi rawan macet dan kecelakaan serta pasar tumpah di beberapa titik di Jateng:

Jalur Pantura Barat: Tol Pejagan; Arah selatan tol menuju ke Purwokerto, ada perlintasan KA yang juga tembus ke Slawi di Simpang Prupuk yang memang merupakan titik kemacetan cukup parah karena jalannya kecil dan persimpangan yang ada dari beberapa jurusan. ­Untuk jalur Pejagan sampai dengan Brebes Timur ini tidak melewati Kota Brebes, dengan kondisi jalan beraspal kasar dan penerangan seadanya.

Beberapa daerah rawan kemacetan yang kemungkinan menjadi rawan tindak kejahatan antara lain Losari, Kalirejo, Bumiayu, Pasar Bawang, Pasar Induk, Ruas Pantura Kluwut, Ruas Bulakamba, Pusat oleh­-oleh di Desa Pebatan, Kecamatan Wanasari (Brebes); Ruas Surodadi, ­Tegal, Ruas Wiradesa­, Pekalongan, Ulujami (Pemalang), Tulis, Plelen (Batang), Truko (Kendal), Jl. Raya Tugu dan Jl. Karangayu­, Siliwangi, dan Jl. Kaligawe (Semarang).

Jalur Pantura Timur: Jalan Raya Sayung, Demak, Jalan Raya Kudus, ­Pati, Ruas Pati­, Rembang dan Ruas Kudus, ­Pati. Sedangkan, Jalur Tengah antara lain di Ruas Mantingan­, Solo, Kartasura, Sukoharjo, Palur, Karanganyar, Lingkar Solo, pintu keluar jalan tol Bawen Kabupaten Semarang, Pasar Ambarawa, Pasar Babadan, Ungaran, Karangjati, Ungaran, Ampel, Boyolali- Tegalgondo, Klaten.

Jalur Selatan antara lain daerah Sumpyuh Banyumas, Prembun Kebumen, Gombong, Pasar Kutowinangun, Kebumen, Butuh, Kutoarjo, Pasar Wanareja, Cilacap, Sepanjang jalur Kecamatan Majenang, Pasar Cileumeuh Kecamatan Cimanggu, Cilacap, Pasar tumpah Desa Genteng Kecamatan Cimanggu, Simpang tiga Terminal Karangpucung, Cilacap, Simpang tiga Sampang, Cilacap.

Sementara, terdapat 17 Titik rawan kejahatan khususnya bajing loncat dan begal yakni Tegal, Pemalang, Batang, Rembang, Blora, Temanggung, Cilacap, Sragen, Karanganyar, Ampel Boyolali, Klaten, Brebes, Semarang, dan Banyumas.

Hal lainnya yang perlu diwaspadai adalah perlintasan kereta api. Jumlah total perlintasan sebidang di wilayah PT KAI Daop IV Semarang ada 705. Dari 705 perlintasan kereta itu, hanya 92 perlintasan yang dijaga dan 20 perlintasan lain menggunakan palang pintu otomatis (WS). Palang pintu yang menggunakan sensor matahari itu milik Dinas Perhubungan di tiap daerah.

Perlintasan tanpa palang pintu di Jateng paling banyak berada di wilayah Solo, Klaten, Karanganyar, Sragen, dan Wonogiri yang mencapai 300 titik. Sedangkan di wilayah Grobogan dengan 126 titik perlintasan KA tanpa palang pintu.

Serangan Teror, Adakah?

Setidaknya ada beberapa perkembangan strategis global dan regional yang dapat memicu terjadinya serangan teror antara lain maraknya serangan teror di beberapa negara Eropa seperti Prancis, Inggris, Jerman, Swedia, Turki. Dan, kemungkinan Rusia akan terkena serangan teror karena sel-sel ISIS di Eropa akan "marah" jika benar klaim Rusia bahwa mereka telah menewaskan Abu Bakar al Baghdadi, pentolan ISIS.

Sementara itu, kekalahan ISIS di Suriah dan Irak akan menyebabkan militan-militan mereka menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Dan, seperti yang diprediksi Panglima TNI, setidaknya ada 16 lokasi sel ISIS di Indonesia. Kemudian, terjadinya konflik di Marawi, Filipina Selatan yang sudah menewaskan lebih 300 orang dari kedua kubu diprediksi berbagai kalangan bertujuan sel ISIS akan membentuk Islamic State in Indonesia and the Phillipines (ISIP).

Sedangkan di Indonesia, pascaserangan bom di Kampung Melayu, kepolisian telah menangkap 30 orang yang terkait kasus tersebut. Bahkan Densus 88 Mabes Polri juga menangkap 2 terduga teroris di Temanggung dan Kendal, Jawa Tengah.

Beberapa titik krusial permasalahan yang diuraikan di atas adalah "early warning" untuk meningkatkan kewaspadaan dan kecermatan kita dalam melihat sikon yang berkembang. Namun, secara umum dapat dikemukakan bahwa serangan teror biasanya terjadi karena ada "gap security" dan kelengahan kita bersama.

Bagaimanapun, sikon mudik dan arus balik 2017 diperkirakan akan tetap berjalan dengan aman, lancar dan terkendali. Selamat berlebaran!

Silahkan kunjungi laman produk Inolabs lainnya seperti Software Apotek, Software Klinik, dan Software Rumah Sakit yang semuanya berbasis web.

SUMBER ARTIKEL | SUMBER GAMBAR